DARI KAMPUS KE PESANTREN, POLTERA AJARKAN SANTRI KETERAMPILAN MENYELAMATKAN NYAWA

Sebanyak 100 santri Pondok Pesantren Puncak Darussalam Pamekasan mendapat bekal keterampilan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dari Politeknik Negeri Madura (Poltera), Sabtu (26/9/2026).


Kegiatan yang digelar melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Jurusan Kesehatan, Program Studi Diploma Tiga Keperawatan Poltera tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan di lingkungan pesantren. Para santri tidak hanya diajak memahami konsep pertolongan pada kondisi darurat, tetapi juga dilatih untuk mampu memberikan respons awal melalui praktik secara langsung.


Lingkungan pesantren yang menjadi tempat belajar dan beraktivitas banyak orang dinilai membutuhkan kesiapsiagaan terhadap berbagai kemungkinan kegawatdaruratan. Karena itu, keterampilan dasar seperti BHD diharapkan dapat menjadi bekal yang bermanfaat bagi santri dalam membantu sesama sebelum mendapatkan penanganan tenaga medis.


Pengasuh Pondok Pesantren Puncak Darussalam Pamekasan, KH. Abdul Hannan Tibyan, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, santri tidak hanya membutuhkan ilmu agama, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.


“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Politeknik Negeri Madura. Pelatihan seperti ini sangat penting bagi para santri. Mereka tidak hanya membutuhkan ilmu agama, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan untuk membantu sesama ketika terjadi kondisi darurat,” ungkap KH. Abdul Hannan Tibyan.


Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga tidak berhenti sebagai pelatihan sesaat, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan pesantren.


“Kami berharap kerja sama dengan Poltera dapat terus berlanjut, khususnya dalam bidang kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Mudah-mudahan ilmu yang diberikan menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi semuanya,” lanjutnya.


Dari Teori ke Praktik
Pelatihan BHD menghadirkan Lailatul Hafidah, S.Kep., Ns., M.Kes. sebagai narasumber. Materi diberikan dengan pendekatan praktik agar peserta tidak sekadar memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman melakukan tindakan pertolongan melalui simulasi. Pelatihan dipandu langsung oleh tiga dosen Poltera, yakni Mohamad Nur, S.Kep., Ns., M.Si., Suraying, S.Kep., Ns., M.Kep., dan Edy Suryadi Amin, S.Kep., Ns., M.Kep.
Sebanyak 100 santri mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 60 santri putra dan 40 santriwati. Dalam praktiknya, para peserta diajak mengenali kondisi kegawatdaruratan dan melakukan simulasi pertolongan menggunakan manikin.


Materi diarahkan pada kemampuan memberikan respons awal ketika menemukan seseorang dalam kondisi tidak sadar atau mengalami henti jantung. Para santri diperkenalkan pada tahapan dasar pertolongan, mulai dari mengenali kondisi korban, meminta bantuan, hingga melakukan tindakan sesuai keterampilan yang telah dilatihkan.


Pendekatan praktik menjadi bagian penting dalam pelatihan. Dalam kondisi kegawatdaruratan, pengetahuan saja tidak selalu cukup. Seseorang juga membutuhkan keberanian untuk bertindak, ketepatan dalam mengikuti prosedur, serta kemampuan mengambil langkah secara sistematis.


Membangun Rantai Pertolongan dari Pesantren
Kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Karena itu, kemampuan memberikan pertolongan awal tidak hanya menjadi kebutuhan tenaga kesehatan.
Santri yang memiliki pengetahuan dan keterampilan BHD dapat menjadi bagian dari rantai pertolongan awal, terutama pada waktu-waktu sebelum korban mendapatkan penanganan tenaga medis.


Bagi Poltera, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Kompetensi yang selama ini dikembangkan dalam lingkungan akademik dibawa langsung ke tengah masyarakat agar dapat dipahami dan dipraktikkan.


Melalui kegiatan tersebut, Poltera menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ilmu yang diperoleh di kampus juga dapat hadir dan memberi manfaat di lingkungan masyarakat.


Dari Santri, untuk Sesama
Lebih dari sekadar mengajarkan keterampilan pertolongan dasar, pelatihan BHD di Puncak Darussalam membawa pesan tentang kepedulian terhadap keselamatan sesama.
Ketika seseorang mengalami kondisi darurat, orang-orang di sekitarnya tidak harus hanya menjadi penonton. Dengan pengetahuan yang tepat, mereka dapat mengambil langkah pertolongan awal sambil menunggu bantuan tenaga medis.


Kolaborasi Poltera dan Pondok Pesantren Puncak Darussalam diharapkan dapat terus berkembang menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kesehatan berbasis masyarakat.


Pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Ketika pengetahuan kesehatan bertemu dengan nilai kepedulian dan kemanusiaan, para santri diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang kuat secara intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keselamatan orang lain.


Dari kampus menuju pesantren. Dari teori menuju praktik. Dari keterampilan menjadi kepedulian.
SANTRI SIAGA, MASYARAKAT SELAMAT.