Politeknik Negeri Madura (Poltera) kembali menunjukkan perannya sebagai kampus vokasi terdepan di Madura. Melalui Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kawasan Ekonomi Khusus (KEK): Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna dalam Budidaya dan Pengolahan Tembakau”, Poltera mempertegas langkahnya menjadi pusat inovasi yang siap mengawal lahirnya KEK Tembakau Madura.
Acara yang mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pelaku komunitas, dan industri ini berlangsung dinamis dengan semangat kolaborasi untuk mendorong tembakau Madura menjadi komoditas bernilai tambah tinggi.

Direktur Poltera Laily Ulfiyah dalam keynote speech-nya memaparkan sederet inovasi yang telah dihasilkan kampus vokasi ini. Mulai dari kapal pvc, ambulance boat, navinata– motor tempel bertenaga listrik, ambulans tiga roda, mesin pengaduk petis, twin brush kartt, moringa oleifera dryer (mod) – pengering hemat energi yang dapat diadaptasi untuk tembakau. dan teknologi lainnya.
“Inovasi ini lahir dari kebiasaan Poltera ‘Belanja masalah’. Kami datang ke lapangan, mendengar keluhan, menganalisis secara keilmuan, lalu merumuskan teknologi sebagai solusi,” tegasnya. Menurutnya, Poltera siap menjadi innovation hub yang menjembatani kebutuhan masyarakat dengan teknologi yang aplikatif dan mudah diadopsi.

Bupati Sampang menyampaikan dukungan penuh. Ia menegaskan bahwa potensi tembakau Madura terlalu besar jika hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.
“Dengan teknologi, tembakau Madura bisa naik kelas. Dan Poltera adalah rumah inovasi yang mampu mendorong transformasi itu,” ujarnya. Bupati mengajak seluruh pihak untuk bergerak bersama, menyukseskan KEK Tembakau sebagai motor baru perekonomian Madura.
Ketua Komunitas Muda Madura (Kamura) menambahkan bahwa pemuda harus berada di barisan terdepan pembangunan KEK Tembakau. Kamura siap memperkuat literasi teknologi dan menjadi penggerak adopsi inovasi Poltera di masyarakat.
“Kami percaya masa depan ekonomi Madura akan ditentukan oleh inovasi dan kolaborasi. Poltera dan pemuda Madura adalah kombinasi terbaik untuk itu,” ungkapnya.
Turut hadir sebagai salah seorang narasumber dalam FGD ini, Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Hamka. Dalam pemaparannya, Hamka mengatakan bahwa Pulau Madura dikenal dengan dua prospek, yakni garam dan tembakau.

Kata Hamka, tembakau merupakan tanaman luar biasa yang bermanfaat dan bisa bernilai tinggi bagi para petani.
“Kita jangan anggap bahwa tembakau itu identik dengan rokok. Tembakau itu juga identik dengan pestisida, obat-obatan dan lain sebagainya,” ujarnya.
Selain diproduksi menjadi rokok, lanjut Hamka, tembakau juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi kompos–yang bisa diambil dari batangnya.
“Masyarakat hanya melihat yang bernilai dari tembakau itu adalah daunnya, padahal kalau diolah, batang, akar dan bunganya lebih besar nilainya daripada daunnya,” jelasnya. (th)

