SAMPANG – Politeknik Negeri Madura (Poltera) melakukan kunjungan resmi ke pabrik garam milik PT Baruna Energi Solusindo Teknik di Pangarengan, Kabupaten Sampang, pada Selasa (15/7). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Poltera dalam membangun kolaborasi nyata dengan industri guna membantu mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir, khususnya petani garam lokal, sekaligus membuka ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa.
Dalam kunjungan tersebut, Poltera disambut langsung oleh Komisaris PT Baruna, Bapak Johan Susilo, yang menjelaskan bahwa pihaknya tengah membangun fasilitas produksi dan riset untuk mengembangkan garam konsumsi menjadi garam industri. Menurutnya, potensi garam Madura sangat besar, namun perlu ditopang oleh teknologi dan inovasi agar dapat menembus pasar industri.
“Kami ingin garam Madura bisa naik kelas. Selama ini kebanyakan hanya sampai tahap konsumsi rumah tangga, padahal peluang untuk masuk ke industri itu sangat terbuka. Kami juga membutuhkan dukungan dari dunia pendidikan, terutama Poltera, yang bisa membantu kami dari sisi teknis maupun riset. Kami percaya kampus vokasi seperti Poltera memiliki energi dan pendekatan yang tepat,” ujar Johan.
Selama dialog dan observasi lapangan, tim Poltera juga menggali berbagai tantangan yang dihadapi petani garam di wilayah Sampang. Beberapa masalah utama yang ditemukan antara lain kualitas air baku yang digunakan sebagian besar telah tercemar limbah domestik, serta proses penguapan yang masih mengandalkan cahaya matahari secara alami. Hal ini dinilai kurang efektif, terutama ketika bahan baku (raw material) memiliki nilai berat jenis (Be) yang rendah, sehingga memerlukan waktu kristalisasi yang lebih lama hingga masa panen. Keterbatasan ini menjadi kendala dalam meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas hasil panen.

Wakil Direktur III Poltera bersama rombongan saat berkunjung ke Pabrik Garam PT Baruna Energi Solusindo Teknik
(Foto: Humas Poltera)
Di sisi lain, belum diterapkannya teknologi pendukung seperti kincir angin omni-directional juga menyebabkan proses penguapan sangat bergantung pada arah angin tertentu. Padahal, pemanfaatan teknologi sederhana semacam ini dinilai dapat mempercepat pengeringan dan meningkatkan produktivitas garam rakyat.
Menanggapi hal ini, Akhmad Arif Kurdianto, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Poltera, menyatakan kesiapan Poltera untuk berkolaborasi langsung dengan industri dan masyarakat melalui pendekatan riset terapan.
“Kami di Poltera tidak ingin riset hanya berhenti di atas meja. Apa yang kami teliti harus menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Selain bisa membantu petani, kolaborasi ini juga menjadi ajang pembelajaran langsung bagi mahasiswa kami. Mereka bisa belajar dari lapangan, memahami persoalan, lalu merancang solusi teknis secara langsung. Ini sejalan dengan semangat vokasi,” ungkap Wakil Direktur III Poltera.
Dalam kunjungan ini beberapa dosen dari Poltera turut hadir, di antaranya Misbakhul Fatah dan Lukman Hadiwijaya dari Jurusan Rekayasa Mesin Industri, serta Bayu Praharsena dari Jurusan Teknologi Elektro. Keterlibatan para dosen ini juga menjadi bagian dari upaya mendekatkan dunia akademik dengan kondisi riil di lapangan, sekaligus membuka peluang penelitian kolaboratif ke depan.
Sebagai kampus yang diarahkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk fokus pada pengembangan ekonomi kelautan, Poltera menempatkan sektor garam sebagai bagian penting dari kontribusi vokasi terhadap potensi strategis Madura. Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari kerja sama berkelanjutan yang mampu menghadirkan inovasi tepat guna dan mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir. (rsa)

