ANAK TUKANG BECAK, ANAK KE-7 DARI 8 BERSAUDARA, RAIH BEASISWA KIP-K DI POLITEKNIK NEGERI MADURA

Dari sebuah desa bernama Juklanteng di Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, lahir kisah yang menyentuh hati tentang ketekunan, harapan, dan kekuatan mimpi. Ainun Badria, anak ke-7 dari 8 bersaudara dan putri dari seorang tukang becak, kini berhasil menembus bangku perguruan tinggi dan menjadi penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Ia diterima di Program Studi Keperawatan, Jurusan Kesehatan, Politeknik Negeri Madura (Poltera), melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Ayahnya, yang sehari-hari mengayuh becak keliling kota Sampang untuk mencari nafkah, menjadi sosok sentral dalam hidup Ainun. Dengan penghasilan yang jauh dari cukup, beliau tetap teguh menyekolahkan anak-anaknya, termasuk Ainun, yang menunjukkan prestasi gemilang meski dalam keterbatasan.

Sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara, Ainun tumbuh di tengah keluarga besar yang hidup dalam kesederhanaan. Ia terbiasa membantu orang tua di rumah, berbagi ruang belajar dengan saudara, dan tetap menjaga prestasinya di sekolah. Ainun adalah alumni SMKN 2 Sampang, tempat di mana tekad dan mimpinya mulai ditempa.

“Bapak selalu bilang, kita tidak punya banyak harta, tapi kita punya semangat. Itu yang harus dijaga,” kata Ainun mengenang nasihat ayahnya.

Ketika pengumuman SNBP menyatakan bahwa ia diterima di Poltera, Ainun tak kuasa menahan tangis. Tak lama kemudian, ia juga dinyatakan sebagai penerima beasiswa KIP-K, yang menanggung seluruh biaya kuliah dan memberikan bantuan biaya hidup.

“Bapak menangis waktu saya kasih tahu. Katanya, itu pertama kali dalam hidupnya dia merasa kayuhan becaknya membawa kami ke tempat sejauh ini,” cerita Ainun haru.

Direktur Politeknik Negeri Madura, dalam keterangannya, menyampaikan bahwa kampus selalu berkomitmen mendukung pendidikan yang inklusif dan membuka akses seluas-luasnya bagi mahasiswa dari latar belakang kurang mampu melalui program-program beasiswa.

“Semoga Ainun bisa menjadi inspirasi bagi siswa-siswi lainnya, bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi,” tambahnya.

Dengan beasiswa KIP-K di tangan, Ainun kini melangkah pasti untuk mengejar cita-cita menjadi perawat. Dari Desa Juklanteng, Kecamatan Sampang, ia membuktikan bahwa tidak ada batas bagi mimpi, bahkan bagi anak tukang becak sekalipun. (th)