Tingkatkan Pengelolaan Sampah di Gresik, Poltera Terapkan Mesin Pencacah Anorganik di Bank Sampah Tataniwa

Poltera Dorong Modernisasi Pengelolaan Sampah di Gresik

GRESIKPoliteknik Negeri Madura (Poltera) mendorong pengelolaan sampah yang lebih efektif melalui penerapan teknologi tepat guna di Bank Sampah Tataniwa, Kabupaten Gresik. Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Keselamatan menerapkan mesin pencacah sampah anorganik pada Minggu, (26/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengelola bank sampah dalam mengolah limbah anorganik. Selama ini, Bank Sampah Tataniwa masih menghadapi keterbatasan dalam pengolahan sampah dan pengelolaan administrasi keuangan. Kondisi tersebut mendorong tim pengabdian menghadirkan solusi yang menggabungkan teknologi, edukasi, dan penguatan tata kelola.

Bangun Bank Sampah yang Mandiri dan Berkelanjutan

Ketua Tim Pengusul menjelaskan bahwa program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada pemberian mesin pencacah. Tim juga memberikan pendampingan melalui sosialisasi, pemetaan kebutuhan, pelatihan manajemen usaha, promosi kesehatan, serta penerapan teknologi tepat guna. Pendekatan tersebut untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Melalui program ini, tim menghibahkan satu unit mesin pencacah sampah anorganik kepada Bank Sampah Tataniwa. Mesin tersebut membantu mempercepat proses pengolahan sampah sebelum masuk ke tahap pemanfaatan atau daur ulang. Harapannya teknologi sampah anorganik yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi terbatas dapat menjadi material yang lebih bernilai.

Koordinator Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Keselamatan Poltera, Muhammad Arus Samudro, M.T., menyampaikan bahwa penerapan teknologi harus sejalan dengan peningkatan kemampuan pengelola.

“Kami ingin teknologi yang diberikan tidak berhenti sebagai bantuan alat, tetapi benar-benar dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan. Karena itu, pendampingan, penyusunan SOP, dan penguatan kemampuan pengelola menjadi bagian penting dalam program ini,” ujarnya.

Perkuat Kapasitas Pengelola melalui Pendampingan

Selain menerapkan teknologi, tim pengabdian juga memperkuat aspek manajerial Bank Sampah Tataniwa. Program yang berlangsung selama delapan bulan ini menargetkan minimal 80 persen pengelola mampu mengoperasikan mesin pencacah dengan baik. Tim juga mendampingi mitra dalam menyusun Standard Operating Procedure (SOP) pengolahan sampah dan sistem pencatatan keuangan yang lebih terstandar.

Program ini turut memanfaatkan hasil riset tim pada 2023 dan 2025 terkait analisis timbulan sampah dan penguatan sarana komunitas. Hasil riset tersebut menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan mitra dan merancang strategi pengelolaan sampah yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan teknologi tepat guna, Bank Sampah Tataniwa mampu berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan yang mandiri. Upaya ini juga mendorong masyarakat untuk membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Pengabdian kepada masyarakat yang tim Poltera lakukan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas. Teknologi, peningkatan kapasitas, tata kelola, dan partisipasi masyarakat perlu berjalan bersama untuk menciptakan pengelolaan sampah yang efektif serta memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Gresik. (rsa)